
Mengupas Sejarah Peran Mbah Mayang Madu di Balik Kesuksesan Islamisasi Nusantara hingga Berdirinya Kesultanan Demak
Lamongan || gayortinews.net – Islamisasi Nusantara merupakan proses panjang yang melibatkan dakwah, silsilah keluarga, dan legitimasi politik. Salah satu jalur penting adalah hubungan genealogis antara Champa dan Nusantara, yang melahirkan tokoh-tokoh besar Wali Songo. Dalam konteks ini, Mbah Mayang Madu memiliki peran pionir, bahkan datang lebih dahulu ke Nusantara dibanding Syekh Ibrahim Asmoroqondi.
Rudi Hariono SH penggiat sejarah dan budaya sekaligus pimpinan LBH pilar kasih keadilan dalam mengupas sejarah menjelaskan
*Awal Jejak Islam di Nusantara* :
Siti Fatimah binti Maimun
Bukti arkeologis paling tua tentang Islam di Jawa adalah makam Siti Fatimah binti Maimun di Leran, Manyar, Gresik, bertanggal 1082 M. Namun, pada masa itu Islam belum berkembang luas. Kehadiran Siti Fatimah binti Maimun lebih merupakan jejak awal komunitas kecil Muslim pesisir yang terkait dengan jalur perdagangan internasional. Islam baru berkembang pesat setelah kedatangan tokoh-tokoh dakwah dari Champa dan jaringan Wali Songo.

*Tapasi dan Raja Champa III*
Dalam prasasti Poh-sa tahun 1306 M, disebutkan bahwa salah seorang permaisuri Raja Champa adalah putri Jawa bernama Tapasi. Raja Champa tersebut adalah Jaya Simhavarman III (Chế Mân), yang memerintah Champa antara tahun 1288–1307 M. Fakta ini menunjukkan adanya ikatan genealogis langsung antara Champa dan Jawa sejak awal abad ke-14, yang kelak menjadi kunci legitimasi politik Islam di Nusantara.
*Kedatangan Mbah Mayang Madu*
Mbah Mayang Madu adalah keturunan dari garis Tapasi–Singosari–Champa. Beliau datang dan menetap di Jelag, Tuban (sekarang Desa Banjarwati, Paciran, Lamongan).

Bukti sejarah Arkeologis bentuk Gapura Makam Sunan Mayang Madu di kompleks makam Sunan Mayang Madu terdapat gapura berbahan bata putih dan tercatat angka tahun 1440, yang menjadi bukti arkeologis bahwa Mbah Mayang Madu sudah hadir di Jawa sebelum tahun itu. Bentuk Gapura Makam dan Angka 1440 ini sekaligus menegaskan asal-usul beliau dari Champa dan peran pentingnya sebagai pionir dakwah Islam di pesisir Jawa.
*Situasi Islamisasi Nusantara Tahun 1440*
– Islamisasi Nusantara masih dalam tahap awal konsolidasi.
– Majapahit masih berkuasa sebagai kerajaan Hindu-Buddha terbesar, meski mulai mengalami kemunduran.
– Islam berkembang di pesisir utara Jawa (Gresik, Tuban, Surabaya) melalui jalur perdagangan.
– Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) sudah wafat sekitar 1419 M, tetapi dakwahnya diteruskan oleh murid dan keturunannya.
– Komunitas Muslim pesisir mulai terbentuk, namun Islam belum menjadi kekuatan politik utama.
– Kehadiran Mbah Mayang Madu dengan legitimasi genealogis Tapasi–Singosari membuat Islam lebih diterima dalam struktur sosial Jawa.

*Strata Sosial Era Majapahit*
Majapahit memiliki struktur sosial yang ketat:
– Ksatria → bangsawan, raja, pejabat tinggi.
– Brahmana → pendeta Hindu-Buddha.
– Waisya → pedagang dan pengusaha.
– Sudra → rakyat jelata.
– Jasta (Paria) → golongan terendah, pendatang atau budak.
Semua pendatang ditempatkan sebagai jasta, tetapi Mbah Mayang Madu berhasil naik status karena membuktikan garis keturunan Tapasi dari Singosari.
*Ibrahim Asmoroqondi dan Sunan Ampel*
Syekh Ibrahim Asmoroqondi menikah dengan bangsawan Champa keturunan Tapasi juga. Dari pernikahan ini lahirlah Sunan Ampel (Raden Rahmat), yang lahir di Champa dan saat dewasa datang ke Jawa.²
Sunan Ampel mendirikan pesantren Ampel Denta di Surabaya. Sampai pada akhirnya salah satu Putranya, Sunan Drajat (Raden Qosim), menikah dengan putri Mbah Mayang Madu bernama Kemuning atau Kinanti.

Sunan ampel juga menjalin Ikatan Pernikahan dengan Sunan Gunung Jati dan Kediri
Selain menikah dengan putri Mbah Mayang Madu, Sunan Drajat juga menikah dengan putri Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) dari Cirebon bernama Siti Sofiyah. Dari ikatan ini, beliau memperoleh gelar Pangeran Derajat.
Lanjut Rudi menjelaskan sejarah Tidak hanya itu, Sunan Drajat juga menikah dengan putri Bupati Kediri, memperluas jaringan dakwah dan legitimasi politiknya ke wilayah pedalaman Jawa Timur. Hal ini menunjukkan bahwa dakwah Islam tidak hanya berkembang di pesisir, tetapi juga mulai masuk ke wilayah agraris pedalaman.
*Pengakuan Politik Demak*
Ketika Raden Fatah mendirikan Kesultanan Demak (sekitar 1475 M), beliau mengakui jasa besar Mbah Mayang Madu dengan memberikan wilayah perdikan Jelag dan menganugerahkan gelar “Sunan Mayang Madu”.³
Selain perdikan Jelag, Raden Fatah juga mengeluarkan beberapa perdikan lain:
– Perdikan Sedayu (Gresik) → Sunan Giri.
– Perdikan Ampel (Surabaya) → Sunan Ampel.
– Perdikan Kadilangu (Demak) → Sunan Kalijaga.
– Perdikan Bonang (Lasem–Tuban) → Sunan Bonang.
– Islam sudah hadir sejak Siti Fatimah binti Maimun (1082 M), tetapi belum berkembang luas.
– Prasasti Poh-sa tahun 1306 M menyebut Tapasi sebagai permaisuri Raja Champa Jaya Simhavarman III, bukti genealogis Champa–Jawa.
– Tahun 1440 M adalah masa awal konsolidasi Islamisasi Nusantara. Terangnya . (Red)



