
🛡️ JANGAN BIARKAN ANAK JADI KORBAN IKUT-IKUTAN! Polda Jatim Ajak Orang Tua Perketat Pengawasan — Lindungi dari Provokasi & Kericuhan
Ikut-ikutan tanpa paham risiko bisa merenggut masa depan. Polda Jatim ajak orang tua dekat dan dengarkan anak — kenali ke mana mereka pergi, siapa yang mengajak, dan apa yang menyebar di media sosial. Aspirasi tetap hak, tapi keselamatan lebih utama
Polda Jatim Imbau Pengawasan Orang Tua — Lindungi Anak dari Terprovokasi Ikut Kericuhan
Ikut-ikutan tanpa paham risiko bisa merenggut masa depan. Polda Jatim mengingatkan: hak berpendapat tetap dihormati, tapi jangan biarkan anak terprovokasi ajakan teman atau media sosial lalu terjebak kericuhan. Komunikasi terbuka, pengawasan, dan edukasi adalah perlindungan terbaik — aspirasi damai lebih didengar daripada kekerasan.
Polda Jatim mengajak orang tua awasi dan bimbing anak agar tidak ikut-ikutan terprovokasi ke kericuhan. Aspirasi boleh disampaikan, namun keselamatan dan masa depan anak harus dijaga bersama — sampaikan pendapat secara damai dan bertanggung jawab.
SURABAYA || Gayortinews — Di tengah gelombang penyampaian aspirasi yang menyebar luas, Polda Jawa Timur mengangkat suara yang sering kali terlupakan: siapa yang menjaga anak-anak kita agar tidak menjadi korban maupun pelaku kerusuhan yang direkayasa orang lain?
Melalui Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol. Jules Abraham Abast, pihak kepolisian menyampaikan imbauan mendalam kepada seluruh orang tua di Jawa Timur — bukan untuk melarang anak berpendapat, tapi agar mereka tidak terjebak menjadi alat bagi kepentingan yang tidak mereka pahami.
“Banyak anak muda ikut berkumpul hanya karena ajakan teman, tantangan di media sosial, atau sekadar takut dibilang tidak peduli. Mereka tidak membaca risiko — bahwa di lokasi itu bisa terjadi bentrokan, penangkapan, bahkan hal-hal yang jauh lebih buruk. Dan ketika itu terjadi, masa depanlah yang terlebih dahulu hancur,” ujar Kombes Abast di Surabaya, Ahad (30/8/2026).
Polda Jatim meminta orang tua tidak sekadar melarang — tetapi mendekat, bertanya, dan menjelaskan. Mengetahui ke mana anak pergi, siapa yang mengajak, dan apa tujuan sebenarnya. Memahami apa yang mereka baca dan dengar di media sosial — karena di situlah provokasi sering kali bersembunyi di balik kalimat-kalimat yang terdengar mulia.
“Kami tidak pernah berkata ‘jangan sampaikan aspirasi’. Kami berkata: sampaikanlah dengan bijak, dengan damai, dengan cara yang terhormat — bukan dengan melompat ke dalam kerumunan yang tujuannya akhirnya berubah menjadi kekerasan. Jangan biarkan anak-anak kita menjadi korban dari api yang bukan mereka nyalakan,” tegasnya.
Pesan ini juga ditujukan langsung kepada para pelajar dan generasi muda: berpikir sebelum ikut. Jangan biarkan emosi sesaat atau tekanan lingkungan menentukan langkah yang bisa merubah seluruh hidupmu.
“Keselamatan dan masa depanmu lebih berharga daripada sekadar ikut-ikutan. Aspirasi yang disampaikan dengan tenang, teratur, dan bertanggung jawab justru akan lebih didengar — dibanding yang datang dengan keributan dan akhirnya ditutup oleh kekerasan,” pesan Kombes Abast.
Langkah ini, menurutnya, bukan tugas kepolisian saja — melainkan tanggung jawab seluruh elemen bangsa: keluarga, sekolah, tokoh masyarakat, hingga pemerintah. Semua harus ikut menjaga agar demokrasi tumbuh dengan melindungi generasi penerusnya — bukan dengan mengorbankan mereka di jalanan.



