
π΄ BUKAN UNTUK BERASPIRASI, TAPI UNTUK MENGACAU! 65 ORANG DIAMANKAN, 39 SAJAM & 201 BOTOL SIAP BOM MOLOTOV DISITA JELANG AKSI DI DPR
Dibawa senjata tajam, bensin, dan ratusan botol kaca siap jadi bom molotov β bukan untuk beraspirasi, tapi untuk mengacau. 65 orang diamankan, siapa yang menyusup dan memberi perintah?
Polda Metro Jaya Cegah Aksi Anarkis Jelang DPR β 65 Orang Diamankan, Sajam & Bahan Bom Molotov Disita
Persiapan kekerasan dibongkar sebelum aksi β sajam, bensin, dan ratusan botol siap molotov disita, 65 orang diamankan. Polri: aspirasi tetap dilindungi, anarkis tidak diberi ruang.
Menjelang kegiatan penyampaian aspirasi di kawasan DPR/MPR RI, Polda Metro Jaya mencegah potensi kekerasan dengan mengamankan 65 orang beserta barang bukti mengerikan: 39 senjata tajam, 7 jeriken bensin, 201 botol kaca lengkap sumbu siap jadi bom molotov, senjata udara, stik golf, dan lainnya. Penyelidikan terus menelusuri siapa yang merekrut, membiayai, dan menggerakkan jaringan ini. Polri menegaskan: hak beraspirasi tetap dilindungi, namun ruang untuk kekerasan dan anarki tidak akan dibiarkan ada.
JAKARTAΒ || Gayortinews β Sebelum suara aspirasi berkumandang, Polda Metro Jaya lebih dulu memutus jalur kekerasan yang disiapkan diam-diam. Menjelang kegiatan penyampaian pendapat di kawasan DPR/MPR RI, petugas berhasil mengamankan 65 orang yang diduga terkait persiapan gangguan keamanan β dan yang ditemukan di antara mereka sungguh mengkhawatirkan.
Bukan spanduk, bukan mikrofon β yang disiapkan justru senjata tajam, bensin, ratusan botol kaca lengkap sumbu, senjata udara, stik golf, hingga obat-obatan. Semuanya menunjukkan satu hal: ada pihak yang sengaja ingin mengubah aksi damai menjadi medan bentrokan.
Pengungkapan ini disampaikan langsung dalam konferensi pers di Aula Satya Haprabu Ditreskrimum Polda Metro Jaya pada Kamis (27/8/2026). Direktur Reserse Kriminal Umum, Kombes Pol. Dr. Iman Imanuddin, menjelaskan bahwa pemeriksaan terhadap ke-65 orang tersebut masih berjalan mendalam β bukan sekadar memproses pelaku di lapangan, tetapi menelusuri jejak ke atas: siapa yang merekrut, siapa yang membayar, siapa yang mengatur, dan siapa yang memberi perintah.
“Kami tidak hanya menangkap yang di depan mata. Kami lacuri aliran dana, komunikasi digital, hingga pola pengorganisasiannya. Agar jaringan yang sengaja merusak kedamaian ini terungkap sampai ke akarnya,” ujar Imanuddin.
Di sisi lain, Kabid Humas Polda Metro Jaya menegaskan bahwa langkah ini bukan untuk membungkam aspirasi rakyat.
“Penyampaian pendapat adalah hak konstitusional yang kami lindungi. Tapi hak itu tidak boleh dijadikan tameng untuk membawa senjata, membakar, dan melukai sesama warga negara. Demokrasi bukan berarti bebas melakukan kekerasan,” tegas Budi Hermanto.
Polda Metro Jaya juga memperketat pengawasan di dunia maya β memantau dan menindak akun-akun yang menyebarkan provokasi, berita bohong, serta ujaran kebencian guna memanaskan situasi. Hingga pagi itu, Jakarta tetap tenang β bukan karena aspirasi diredam, tapi karena potensi kekerasan berhasil diputus lebih awal.



