
Bebasnya Perjudian “Di Donomulyo Malang, Cap Jiki Berkuasa, Hukum Cuma Nama”
Malang || gayortinews.net – Di dalam pasar sapi jalan utama desa Mulyosari Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, tempat judi Cap Jiki itu berdiri terbuka, Kegiatan yang dimulai mulai jam 07.00 – jam 12.00 terang benderang ramai orang berdesak-desakan, uang berpindah tangan ratusan ribu sampai jutaan Ini bukan rahasia lagi, sudah bertahun-tahun berjalan, sampai hari ini masih bebas, tak pernah tersentuh sedikit pun. Padahal jarak ke Pos Polisi dan markas Polsek cuma 2km, patroli lewat setiap hari, petugas lewat depan hidung mereka. Tapi apa yang terjadi? Mereka sengaja memalingkan muka, pura-pura tuli, hukum dianggap tak ada.
“Jangan tanya berani atau tidak. Di sini, mereka merasa lebih berkuasa daripada negara sendiri. Tidak ada rasa takut, tidak ada sembunyi-sembunyi. Kalau ada mobil polisi lewat, mereka malah makin berisik, makin semangat main. Karena mereka tahu: polisi yang lewat itu bukan penegak hukum, tapi pengawal bayaran mereka,” tegas narasumber kami, warga lama yang tinggal persis di sebelah lokasi, suaranya gemetar menahan amarah.
Narasumber menjelaskan aktifitas ini setiap pasaran Jawa pon.Pemiliknya bernama sum dan Tris.

Semua berpusat pada satu nama: petugas inti di Polsek Donomulyo. Nama itu jadi jaminan mutlak, jadi “cap sah” kebal hukum.
“Urusan mereka sudah beres sejak lama. Setiap usai permainan, separuh keuntungan disetor langsung ke tangan ………., kadang diantar sampai ruang kerjanya di kantor. Uang itu yang membelenggu mata, menutup telinga, mematikan hati nurani. Makanya mereka berani berteriak ke siapa saja: ‘Lapor saja ke mana pun, kami punya ………..urusan beres’. Itu penghinaan paling kotor buat kami warga, buat hukum Indonesia,” katanya tajam.
Sudah berkali-kali warga mengadu, melapor resmi ke meja Polsek, kirim surat, sampai berani bicara terbuka. Tapi hasilnya nol. Laporan hilang, dibilang “tidak ada bukti”, atau malah pelapornya yang diancam diam-diam: “Diam atau kamu yang kena masalah”. Siapa yang berani melawan kalau pelindung hukumnya sendiri yang jadi bos bisnis haram?
“Di Donomulyo ini, Cap Jiki jadi penguasa nyata. Mereka rusak ekonomi warga, bikin banyak keluarga hancur, utang menumpuk, pencurian dan perkelahian merajalela. Tapi karena ada uang haram mengalir ke kantong oknum, semua itu dianggap ‘biasa saja’, ‘tidak ada masalah’. Ini bukan sekadar pembiaran, ini pengkhianatan terang-terangan. Gaji mereka dibayar dari pajak kami, tapi mereka malah jadi penjaga gerbang kejahatan.”
Yang paling menyakitkan, sampai detik ini, tahun berganti tahun, aturan tetap sama, tempat itu tetap buka lebar-lebar.
“Selama …………masih di sana, selama uang masih masuk, jangan harap ada perubahan. Di sini, hukum sudah mati. Dibunuh oleh orang yang seharusnya menjaganya. Cap Jiki di Donomulyo bukan lagi sekadar judi, tapi bukti nyata: kalau ada oknum yang dibeli, keadilan cuma jadi dongeng, dan kejahatan berjalan bebas selamanya.”(Red)



