
Bebasnya Perjudian: “Sukoanyar Pakel: Judi Berkuasa, Hukum Cuma Hiasan Dinding”
Tulung agung|| gayortinews.net – Di pinggir jalan raya utama Desa Sukoanyar, Kecamatan Pakel, Kabupaten Tulungagung, lampu-lampu terang menyala setiap sore sampai pagi, kerumunan orang berdesak-desakan, uang ratusan juta berpindah tangan terang-benderang. Semua jenis judi berjalan bebas, terbuka, tanpa sembunyi, tanpa tirai penutup, tanpa rasa takut sedikit pun, dan sudah berlangsung lebih dari 4 tahun tak pernah tersentuh hukum. Jaraknya ke Polsek Pakel cuma sekitar 400 meter, pandangan lurus ke lokasi, rute patroli wajib lewat persis di depan hidung mereka. Tapi apa yang terjadi? Mereka sengaja memalingkan muka, pura-pura tuli dan buta, seolah kejahatan itu tidak ada di muka bumi ini.28/5/2026
“Jangan tanya takut atau tidak. Di sini rasa takut sudah lama hilang, dikubur dalam-dalam. Mereka malah angkuh, sombong, menantang siapa saja yang berani menegur atau melapor. Kalau ada mobil polisi lewat, mereka makin berisik teriak kemenangan sambil tertawa sinis: ‘Lewat saja, jangan pura-pura kerja, urusan kami sama bos dan aparat sudah beres semua, sudah lunas bayarnya’. Mereka sadar betul: polisi yang lewat itu bukan penegak hukum, tapi pengawal bayaran yang dibayar mahal dari uang haram kami rakyat kecil,” tegas narasumber kami, warga asli Sukoanyar yang sudah bertahun-tahun menyaksikan desanya hancur, suaranya parau menahan amarah dan rasa kecewa mendalam.
👤 Siapa Penguasa Sebenarnya?
**Pemilik tunggal, bos besar, raja mutlak seluruh judi di sini biasa dipanggil Gun. Namanya jadi sakti mandraguna semua hambatan hilang seketika, hukum minggir, polisi diam seribu bahasa. Dialah yang punya semua arena, semua alat, semua pengelola, dialah yang atur kapan buka, kapan harus pura-pura tutup kalau ada orang dari luar datang.
Dan dia dibekingi kuat, dilindungi mati-matian oleh oknum Polsek Pakel: BRIGADIR K dan AIPDA T Dua nama ini jadi tameng paling kuat, nama yang paling ditakuti warga, nama yang bikin gun merasa kebal hukum selamanya. Hubungan mereka sudah bertahun-tahun, erat sekali, uang haram mengalir deras setiap malam ke tangan dua oknum itu.
“Setiap malam jam 11 malam, usai permainan, hasil keuntungan dibagi tegas: Kardi ambil bagian terbesar, separuh lagi dikemas rapi dalam amplop tebal, langsung diserahkan ke tangan Pak K dan Pak T bahkan sering diantar sampai masuk ke ruangan kantor polisi sendiri. Uang itulah yang membelenggu mata mereka, memekakkan telinga, dan mematikan hati nurani sampai ke akar-akarnya. Makanya mereka berani bicara sembarangan: ‘Lapor ke mana saja, sampai ke ibu kota sekalipun, kami aman. gun punya K dan T, hukum tidak akan pernah menyentuh rambut kami’. Itu penghinaan paling kotor, paling kejam buat negara, buat kami rakyat kecil yang sudah bayar pajak buat gaji mereka,” ujarnya dengan nada tinggi dan bergetar.
🃏 Semua Jenis Judi Berjalan Lengkap, Bebas, Terang-Terangan:
1. Cap Jiki / Jeki – Paling besar, paling ramai, setiap malam penuh sesak. Taruhan mulai Rp 20.000 sampai jutaan rupiah. Lampu terang benderang, pintu terbuka lebar, polisi lewat cuma senyum-senyum sambil menyapa akrab. Sumber uang utama buat gun dan setoran terbesar ke oknum.
2. Sabung Ayam – Arena luas di belakang bangunan, paling besar se-Pakel. Buka tiap Minggu, hari libur, atau hari pasar. Uang taruhan puluhan sampai ratusan juta sekali acara. Di sini Kardi dapat potongan paling besar, dan uang setoran ke K dan T juga paling mahal. Pernah ada razia pura-pura, dibakar sedikit perlengkapan — itu cuma sandiwara biar kelihatan kerja. Besoknya buka lagi lebih ramai, lebih berani.
3. Judi Dadu / Sicbo & Kartu Remi / Qiu-Qiu – Meja-meja berderet sepanjang jalan, taruhan besar-kecil, genap-ganjil, angka pas. Uang berpindah tangan sangat cepat, berisik, teriak-teriak, sering berakhir ribut atau berantem berdarah. Tapi diam saja karena “wilayah aman, milik Kardi”.
Sudah berkali-kali warga Sukoanyar mengadu, kirim surat resmi, datang langsung ke meja laporan, sampai berani bicara terbuka di pertemuan desa. Tapi hasilnya nol besar, kosong melompong. Laporan hilang entah ke mana, dibilang “tidak ada bukti yang cukup”, atau malah pelapornya yang didatangi diam-diam dan diancam: “Diam saja atau kamu dan keluarga yang akan kena masalah besar, ingat ini wilayah gun, K dan T berkuasa”. Siapa yang berani membela diri kalau pelindung hukumnya sendiri yang justru jadi bos besar kejahatan?
“Di Sukoanyar ini, bukan negara yang berkuasa, bukan hukum yang berlaku — tapi gun , K, dan T lah yang jadi penguasa asli. Mereka rusak ekonomi warga, bikin keluarga berantakan, anak istri kelaparan, utang menumpuk di mana-mana, pencurian dan perkelahian berdarah meletus setiap malam sampai kami takut keluar rumah malam hari. Tapi karena ada uang haram mengalir deras ke kantong oknum-oknum itu, semua kekacauan dan kehancuran ini dianggap ‘biasa saja’, ‘tidak ada masalah berarti’. Ini bukan sekadar tutup mata atau pembiaran biasa, ini adalah pengkhianatan terang-terangan, dosa besar yang dilakukan orang berseragam. Gaji mereka dibayar dari uang kami, dari keringat kami, tapi balasannya mereka malah jadi penjaga gerbang bisnis setan yang merusak masa depan desa ini.”
Yang paling menyakitkan dan bikin hati hancur: tahun berganti tahun, kepemimpinan berganti, tapi tempat ini tetap buka lebar-lebar, tak pernah tutup sungguhan sehari pun. Bahkan kalau ada tim pengawasan atau razia dari luar wilayah, cukup satu telepon singkat dari Brigadir K semuanya dibatalkan, dikabari bohong: “Wilayah saya aman, bersih, tidak ada apa-apa”. Begitu petugas pergi, buka lagi lebih ramai dari sebelumnya.
“Selama nama gun masih jadi bos, BRIGADIR K & AIPDA T masih berkuasa di sana, dan selama uang haram masih masuk ke kantong mereka, jangan harap ada perubahan sedikit pun. Di Sukoanyar Pakel ini, hukum sudah mati. Dibunuh secara kejam oleh orang yang paling seharusnya menjaga dan menegakkannya. Kebebasan judi di sini bukan lagi sekadar kejahatan, tapi bukti nyata dan pahit: kalau aparat sudah bisa dibeli uang, keadilan cuma jadi dongeng pengantar tidur, dan kejahatan akan berjalan bebas selamanya, menginjak-injak kami rakyat kecil tanpa rasa bersalah sedikit pun.”(Red)



